Khadijah

Oktober 19, 2007

Teladan Bagi Wanita

Judul Buku : Khadijah, The True Love Story of Muhammad
Penulis : Abdul Mun’im Muhammad
Halaman : xi + 341 halaman
Penerbit : Pena Pundi Aksara

Khadijah orang yang selalu berada di samping Muhammad, bukan saja untuk menyokong dakwah, melainkan juga menjadi tempat untuk menguatkan diri menghadapi tentangan masyarakat Mekah saat itu. Tanpa pernah mengeluh, totalitas pengabdian Khadijah akan dakwah Rasulullah menjadi tidak tertandingi.

Ada sesuatu yang tidak pernah berubah di dalam diri Khadijah yaitu kekuatan spiritual dan kejernihan cinta. Ia selalu dan selamanya beriman kepada Allah serta meyakini kebenaran risalah suaminya. Sebaliknya, pribadi Khadijah menjadi begitu istimewa bagi Rasulullah Saw. Khadijah menjadi kisah cinta sejati Rasulullah. (Penerbit)

Sinopsis :
Rasulullah Saw menyatakan ada empat pemimpin para wanita ahli surga yakni Maryam binti Imran, Fatimah az-Zahra, Khadijah dan Aisyah. Kedudukan keempat pemimpin para wanita ahli surga memang sangat layak berada tempat termulia jika dilihat dari riwayat hidup mereka di masa kepemimpinan Rasulullah Saw. Satu diantaranya, kisah Khadijah istri Rasulullah Saw, yang merupakan sosok fenomenal.

Cukup membanggakan kalau penulis berupaya menyajikan riwayat hidup Khadijah mulai pernikahan dengan Nabi Muhammad Saw hingga memberikan keturunan bagi Rasulullah. Karena dengan membaca kisah wanita penghuni surga ini banyak memberikan inspirasi bagi kaum wanita muslim lainnya.

Meskipun buku ini terjemahan dari karya aslinya “Khadijah Ummul Mu’minin Nazharat Fi Isyaraqi Fajril Islam”, tapi cukup mudah untuk dipahami dan banyak contoh yang bisa diaplikasikan oleh wanita muslim di era sekarang ini. Seperti kemandirian Khadijah dalam mengelola sendiri urusan-urusan perdagangannya sebelum menikah dengan Muhammad.

Ini menunjukkan bahwa wanita muslim harus cerdas termasuk mampu menjalankan bisnis, tegas dalam mengambil keputusan. Tidak hanya cerdas menjalankan bisnis tapi juga pintar menjadi seorang istri.

Banyak keistimewaan pada diri Khadijah. Bagi Khadijah, harta dan kekayaan materi merupakan sesuatu yang tidak permanen. Sementara adat dan tradisi Jahiliah, menurutnya, adalah seperangkat konvensi yang ditetapkan oleh para leluhur untuk menangani persoalan-persoalan spesifik di zaman mereka sendiri.

Ketika zaman berubah, sebagian adat dan tradisi itu tidak lagi memadai untuk dijadikan pedoman. Pertimbangan itulah yang membuat Khadijah menjadi pelopor bagi upaya memberikan hak pada kaum wanita untuk memilih rekan hidup mereka sendiri. Tidak seorang pun berhak memaksanya untuk duduk manis di rumah, menunggu datangnya lelaki yang melamarnya. Khadijah berpendapat bahwa wanita juga berhak melakukan pendekatan kepada lelaki yang ia inginkan untuk menjadi suaminya. Masih banyak keisitimewaan Khadijah lainnya, termasuk saat mendampingi Rasulullah Saw. (simak halaman 307).

Deskripsi :
Buku love story berbasiskan akidah agama memang jarang kita peroleh di toko-toko buku. Apalagi buku yang diperuntukan 100% bagi kaum wanita, jarang ditulis. Meski demikian, buku ini cocok dibaca juga oleh kaum pria karena kisah perjuangan Nabi Muhammad Saw juga bisa disimak.

Dengan demikian kaum pria bisa mencontoh teladan Rasululluah sebagai suami sekaligus pemimpin rumah tangga. Bagaimana Rasulullah membagi perannya untuk istri dan anak-anaknya serta saling mendukung dalam menegakan Agama Allah SWT. Nah, tunggu apalagi, baca didalamnya dan segara aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari terutama bagi yang sudah berkeluarga maupun yang akan memasuki jenjang pernikahan.

Mudah-mudahan setelah membaca buku, sebagai kaum muslim, kita juga akan mendapatkan hidayah dari Allah SWT dan menjadi pengikut Rasulullah hingga akhir jaman.

Sumber : SSNet

How to Read a Book

Oktober 13, 2007

Cara Membaca yang Sesungguhnya

Judul Buku : How to Read a Book : Cara Jitu Mencapai Puncak Tujuan
Penulis : Mortimer J Adler dan Charles Van Doren
Halaman : xxiv + 526 halaman
Pene
rbit : iPublishing, Jakarta 2007

Membaca simbol kemajuan sebuah peradaban. Membaca membedakan peradaban maju dengan primitif, antara negara maju dan negara berkembang. Melihat begitu pentingnya membaca, ia pun dijadikan salat satu indeks bagi pembangunan manusia, yang sering dijadikan ukuran keberhasilan pembangunan sebuah negara.

Sinopsis :
Membaca untuk mendapatkan pengertian adalah pendidikan seumur hidup secara intelektual. Sekolah semestinya mengajarkan hal ini secara berjenjang. Dengan demikian, setelah lulus dari sekolah lanjutan, seorang sudah bisa menikmati dan memahami hampir semua besar bacaan dan menjadi pembelajar seumur hidup.

Buku ini menjelaskan cara meningkatkan kemampuan membaca secara berjenjang mulai dari membaca dasar, inspeksional (tematis) dan juga sejumlah tes sesuai jenjang itu. Tahap-tahap ini harus dijalani secara berurutan karena tidak mungkin untuk maju ke tahap berikutnya tanpa menguasai tahap sebelumnya.

Membaca dasar yakni mengeja, membaca kata dan kalimat, menerjemahkan simbol menjadi sebuah bunyi yang bermakna. Membaca tingkat ini semestinya dikuasai seseorang sesudah menamatkan sekolah dasar. Ini ditandai dengan kemampuan membaca yang lancar tanpa patah-patah dan kemampuan membaca di dalam hati (silent reading).

Membaca inspeksional sekilas dapat disamakan dengan membaca cepat. Membaca inspeksional adalah membaca sekilas atau selayang pandang, secara sistematis sambil mengajukan pertanyaan kepada teks yang kita baca dan berusaha menjawabnya selagi kita membaca.

Ada dua manfaat yang bisa didapat dari membaca sekilas ini yakni untuk menentukan apakah buku itu layak atau tidak untuk kita baca secara lebih mendalam, dan mendapatkan ide dasar dari buku tersebut.

Sebagai penulis, Adler menunjukkan bahwa membaca buku seharusnya dengan kecepatan yang sesuai. Buku atau bagian bacaan yang seharusnya dibaca dengan cepat jika kita baca dengan perlahan akan menghabiskan waktu dengan percuma.

Membaca analitis, inilah membaca dalam arti sesungguhnya dimana kita ‘mengunyah dan mencerna’ bacaan, menjadikannya bagian dari diri kita.

Deskripsi :
Adler menyusun buku ini dalam kerangka pendidikan liberal arts yang tidak lagi menjadi warna utama dalam pendidikan, seperti pada beberapa abad lampau. Ini pendidikan generalis, menguasai kecakapan intelektual dasar agar dapat memahami dan mendalami semua bidang ilmu.

Bagi yang ingin memiliki gerbang studi mandiri seumur hidup dan mendalami bidang apa saja, yang berniat dan mau berusaha, buku ini panduan yang tepat. Hanya saja, butuh waktu untuk membacanya, mengingat jumlah halaman cukup banyak.

Tuanku Rao

Oktober 2, 2007

Membedah Gerakan Paderi

Judul buku : Tuanku Rao
Penyusun : Mangaradja Onggang Parlindungan
Pe
nerbit : LLiS Yogyakarta
Cetakan : Juni 2007
Tebal : vii + 691 halaman

Apa yang mau dihadirkan dengan buku :Tuanku Rao setelah 43 tahun menjadi kontroversi ? Sejak terbit perdana 1964 oleh Penerbit Tandjung Harapan dan ditarik dari peredaran oleh penyusunnya sendiri, buku ini menyimpan kenangan keluarga, kontroversi yang belum dan mungkin tidak perlu selesai. Sebagaimana lumrah terjadi dalam diskusi akademik, khususnya kajian-kajian sejarah Indonesia, barangkali buku ini dapat diletakan kembali dan diperkenalkan lagi kepada khalayak pembaca dan peminat sejarah.

Sejak 43 tahun pula, buku ini terus menerus menjadi rujukan, kritik dan bahkan cercaan. Tapi tidak banyak generasi setelahnya mengerti bagaimana kontriversi buku ini berlangsung. Setelah menerbitkan karya-karya Prof.Slamet Mulyana satu diantara murid Mangaradja Onggang Parlindungan, tentulah kita ingin mengenal guru dari seorang murid yang juga melahirkan buku kontroversial di tahun 1969. (Penerbit)

Sinopsis :
Gerakan perang Paderi dilatarbelakangi perintah langsung Abdullah Ibn Saud Raja Arab Saudi kepada tiga tawanan perang bersuku bangsa Minangkabau Kolonel Haji Piobang, Mayor Haji Sumanik dan Haji Miskin. Mereka bertiga dirangket saat pasukan Wahabi merebut Mekkah dari tangan Turki, 1802. Para pecundang tidak dihukum mati boleh lepas bebas. Kompensasinya, mereka harus membuka cabang Gerakan Wahabi sesampai di kampung halaman.

Pembentukan pasukan Wahabi Minangkabau dipercayakan pada Kolonel Haji Piobang. Tentara Wahabi Minangkabau bentukan para tawanan Raja Abdullah Ibn Saud, cikal bakal pasukan Paderi. Kelak jadi army group Tuanku Rao yang melakukan ekspansi di tanah Batak.

Dengan meriam, pasukan Paderi mampu menembus dan mengobrak abrik isolasi alam Tapanuli yang terlindung pegunungan Bukit Barisan dan lembah Danau Toba. Di bawah pimpinan Pongkinangolngolan pasukan Paderi memancung kepala Singamangaradja X dalam penyerbuan ke Bakkara, ibukota Dinasti Singamangaradja tahun 1819.

Pongkinangolngolan merupakan anak hasil perkawinan sumbang (incest) Putri Gana Sinambela dengan pamannya Pangeran Gindoporang Sinambela. Gana Sinambela sendiri kakak dari Singamangaradja X. Pongkinangilngolan seperti dituturkan Onggan Parlindungan dibuang karena dianggap anak haram jadah dan sumber aib keluarga.

Pongkinangolngolan merantau ke Minangkabau dan bekerja pada Datuk Bandaharao Ganggo. Pada waktu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik tiga tokoh pembaharuan abad ke-19 baru kembali dari Mekah, mereka mempersiapkan tentara untuk ekspansi gerakan Mashab Hambali ke Mandailing mendapat dukungan Tuanku Nan Renceh. karib Datu Bandaharao. Renceh terkesima dengan mengetahui nasib dan silsilah Pongkinangolngloan. Pongkinangolngolan rupanya sangat baik digunakan dalam rangka merebut dan menduduki tanah Batak. Oleh Tuanku Nan Renceh, Pongkinangolngolan diberi nama Panglima Umar bin Katab. Sebagai perwira Paderi, Pongkinangolngolan diang\kat dengan gelar Tuanku Rao.

Deskripsi :
Buku ini melihat Gerakan Paderi dengan sudut pandang etnis Batak. Berbeda dengan umumnya sejarah Paderi yang menggunakan sudut pandang etnis Minang. Gerakan Paderi (1803-1837) selaku cabang Gerakan Wahabi di Arab, merupakan gerakan radikalisme Hambali Zealots, begitu keyakinan Mangaradja Onggang Parlindungan.

Buku yang disusun menggunakan metodologi penulisan sejarah, juga ditujukan untuk merehabilitasi nama baik Tuanku Rao yang citranya remuk redam di kalangan masyarakat Batak. Melalui buku ini, Mangaradja mengkampanyekan lingkaran malaikat perdamaian.

Hanya saja, buku yang disusun ulang persis dengan sebelumnya, bagi yang tidak terbiasa dengan ejaan lama agak susah dimengerti. Bahkan dalam tata bahasanya masih dicampur dengan Bahasa Inggris. Ini bisa dimaklumi agar apa yang tertulis dalam penerbitan perdana tidak terkurangi isinya dalam penerbitan kedua.

Sumber : SSNet