The Secret

November 30, 2007

Judul Buku : The Secret
Penulis : Rhonda Byrne
Halaman : xiii + 236 halaman
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Apa yang sebenarnya membuat Plato, Shakespeare, Newton, Hugo, Beethoven, Lincoln, Emerson, Edison dan Einsten, menjadi orang-orang ‘besar’ dalam sejarah manusia ? Jawabannya, sangat sederhana namun membutuhkan pemahaman tersendiri. Mereka menjadi ‘besar’ karena telah mengenal Rahasia Kehidupan ini.

Rahasia ini telah diwariskan berabad-abad. Ketika Anda mempelajari Rahasia ini, Anda akan menyadari bahwa Anda dapat melakukan segala sesuatu yang Anda inginkan. Anda akan menyadari siapa diri Anda sesungguhnya dan keagungan sejati sedang menanti Anda dalam hidup ini (Penulis)

Sinopsis :
Setiap orang sebenarnya memiliki kekuatan tersendiri dalam mengendalikan kehidupannya. Tinggal bagaimana kekuatan itu diolah, ibaratnya seperti sebuah medan magnet yang ada di alam semesta ini. Dan kuncinya adalah memfokuskan keinginan kita itu dalam pikiran. Pikiran tersebut kemudian memantulkan daya magnetis ke arah yang menjadi keinginan kita.

Ini sudah dilakukan 24 guru yang kisahnya bisa dibaca dalam buku karya Rhonda Byrne ini. Bahkan dalam filmnya berdurasi 120 jam, “The Secret”, suara-suara para guru tersebut memberikan kekuatan tersendiri untuk memotivasi setiap penontonnya.

Satu diantara pengalaman dari ke-24 guru yakni Bill Harris pendiri Centrepoint Research Institute, yang memiliki murid bernama Robert seorang gay. Bill meminta Robert untuk mengubah pikirannya untuk meninggalkan karakter gay ternyata membuahkan hasil. Enam minggu kemudian setelah Robert mengubah pikirannya, keajaiban terjadi. Orang-orang di sekitarnya tidak lagi melecehkan kepribadiannya.

Menurut Harris, keajaiban yang diperoleh Robert tak lain karena Robert berhasil memancarkan frekuensi yang berbeda ke alam semesta. Dan semesta ‘pastilah’ mengirim gambar-gambar dari frekuensi baru terlepas dari betapa mustahilnya situasi itu tampaknya. (halaman 22).

Deskripsi :
Pernik-pernik Rahasia Besar telah ada dalam tradisi lisan, kesusastraan, agama dan filsafat selama berabad-abad. Untuk kali pertama, semua percik rahasia itu disatukan dalam sebuah pesan yang akan mengubah hidup orang-orang yang mengalaminya.

Dalam buku motivator ini, Anda akan mempelajari cara menggunakan Rahasia di dalam setiap aspek kehidupan baik di bidang keuangan, kesehatan, relasi, kebahagiaan dan dalam setiap interaksi yang Anda alami di dunia. Anda akan mulai memahami kekuatan yang tersembunyi dan belum pernah tersentuh di dalam diri Anda.

Buki ini berisi kearifan dari para guru masa kini yang telah menggunakannya untuk mencapai kesehatan, kesejahteraan dan kebahagiaan. Dengan menerapkan pengetahuan Rahasia “berpikir positif, maka kita akan mendapatkan sesuatu yang juga positif”.

Sumber : SSNet

Dalam Mihrab Cinta

November 24, 2007

Cinta di Atas Mahligai Iman

Judul Buku : Dalam Mihrab Cinta
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Halaman : 328 halaman
Penerbit : Republika dan Pesantren Basmala Indonesia

Ruh cinta kepada semesta alam adalah ruh Islam. Dengan rasa cinta yang indah. Merasa hidup dengan segala suka dan dukanya, terasa indah. Dengan membaca, penulis merasakan bisa melipat ruang dan waktu, merasakan hidup di pelbagai tempat dan saat.

Dengan menulis, bisa merasakan kenikmatan yang tidak kalah dengan kenikmatan membaca. Karena bisa menciptakan perasaan penulis sendiri, mengajak jiwa lebih bersemangat ketika sedang melemah. Ini terekam dalam ringkasan tiga novel yang terkodifikasi “Dalam Mihrab Cinta”. (Penulis)

Sinopsis :
Ringkasan tiga novel karya Habiburrahman ini mengandung filosofi yang hampir sama. Yakni kita harus mampu membingkai mahkota cinta kehidupan di atas mahligai iman dan takwa serta kejujuran. Dengan berlandaskan tiga hal tersebut, kehidupan bisa dibangun begitu indah untuk menuju Rahmatan Lil Alamin.

Dalam novel pertama, “Takbir Cinta Zahrana”, penulis mengangkat sosok perempuan intelektual namun telat berumah tangga. Bagi Zahrana setelah puas mengamalkan ilmu dunianya, ada kegundahan dalam hatinya. Pasalnya, di usia 34 tahun, Zahrana belum menemukan lelaki yang dirasa tepat untuk menjadi teman pendamping hidupnya.

Zahrana hanya akan menikah jika lelaki itu mampu menjadi imam bagi dirinya sekaligus menggenapi sebagian ibadah yang belum dilaksanakan, melalui sebuah pernikahan. Malang bagi Zahrana, begitu menemukan sosok yang diidamkan, sehari sebelum akad nikah dilaksanakan tiba-tiba calon suaminya ditemukan meninggal tertabrak kereta api.

Namun rahasia Allah, Zahrana akhirnya mendapatkan jodoh sejatinya yakni Hasan mantan muridnya sendiri. Zahrana menerima Hasan yang ternyata mencintai dirinya secara diam-diam.

Di novel keduanya “Dalam Mihrab Cinta”, penulis menceritakan kisah penderitaan Syamsul Hadi akibat fitnahan Burhan temannya di Pondok Pesantren Al Furqon Kediri. Cap pencuri yang ditimpakan pada dirinya, membawa pengembaraan Syamsul ke Jakarta.

Dia harus meninggalkan keluarganya di Pekalongan yang tidak mempercayai dirinya lagi akibat fitnahan Burhan. Meski melalui perjuangan yang cukup panjang, sempat mendekam di penjara akibat ketahuan mencopet, Syamsul akhirnya menjadi Ustadz muda di Jakarta.

Sementara Burhan sendiri harus menuai benih yang ditanamkan. Burhan diusir dari pesantren karena ketahuan siapa dirinya yang sebenarnya. Bahkan nasib buruk terus diterima karena SILVIE pacarnya akhirnya memilih Syamsul untuk menjadi teman hidupnya.

Dalam novel ketiga, romansa kehidupan melibatkan dua sosok Jawa, Zul dan Mari, di tanah perantauan di Malaysia. Zul hanya berbekal kenekadan untuk mengubah nasib hidupnya dipertemukan dengan Mari yang kecewa dengan pribadi suaminya yang baru diketahui seminggu setelah pernikahan.

Pertemuan Zul dan Mari terjadi di kapal yang membawa mereka dari Batam ke Johor Bahru. Ini berlanjut hingga Zul tertarik dengan pribadi Mari, setelah perjuangan mereka berdua di Malaysia.

Deskripsi :
Novel pembangun jiwa ini memang memberikan banyak pelajaran bagi pembaca. Pasalnya, cerita yang dituangkan diangkat dari kisah nyata dipadukan dengan nilai-nilai agama bahwa setiap menanam kebaikan pasti akan menuai hasil yang baik pula. Sebaliknya, jika menebarkan benih kejahatan, hanya menikmati kesia-siaan dalam hidup ini.

Meski dalam tiga novel berbeda suasana dan setting-nya, namun penulis mampu menyuguhkan cerita yang utuh. Ketiga ceritanya menjalin benang merah tentang bagaimana kita membangun jiwa ini. Dan ini membawa emosi pembaca turut larut dalam aliran ceritanya.

Sumber : SSNet

Label: ,

From Beirut to Jerusalem

November 9, 2007

Nasib Muslimin Palestina

Judul Buku : From Beirut to Jerusalem
Penulis : dr Ang Swee Chai
Halaman : 656 halaman
Penerbit : Mizan Media Utama, cetakan II 2007

Bagi seorang dokter, menulis memori perjalanan yang dilakukan 6 tahun lalu di saat Israel menghancurkan Palestina memang tidaklah mudah. Namun dr Ang Swee Chai berusaha mengingat secara detil apa yang pernah dilihat, dilakukan dan didengar sendiri suara-suara bom saat jatuh di bumi Palestina.

Perjalanan dari Beirut ke Jerusalem bagi dr Ang Swee Chai, merupakan pengalaman yang tidak bernilai. Berkat dukungan teman-teman senasib seperjuangan, “Tears of Heaven” menjadi ‘hadiah’ tidak ternilai bagi masyarakat Palestina. Fakta sejarah yang ditulis oleh seorang dokter spesialis bedah.

Sinopsis :
Musim panas 1982 menjadi babak baru bagi dr Ang Swee Chai melihat langsung kebrutalan Israel terhadap penduduk muslim di Beirut. Kebrutalan Israel tidak hanya menghancurkan kapal Palang Merah Internasional tapi juga seluruh rumah sakit dan klinik.

Penyiksaan perang yang disulut tentara Israel, hanya menyisakan “Sindrom Awal Reagan ‘ yakni anak-anak yang masih shock akibat perang. Mereka tampak kurus dan ketakutan, bengong, menolak makanan dan minuman.

Sindrom Awal Reagan artinya satu atau dua tungkai yang buntung, sebuah luka besar di dada yang menyebabkan anak-anak itu kehilangan sebelah paru-paru mereka dan sebuah luka memanjang di perut yang menyebabkan hilangnya hati, limpa dan ginjal. Semua luka itu, disertai pula luka patah tulang terbuka yang mengalami infeksi. (halaman 92).

Memori dr Ang Swee yang tidak kalah serunya saat pagi hari 15 September 1982. Raungan suara pesawat yang melintas di atas, dari Laut Tengah menuju lokasi kamp-kamp pengungsi Sabra dan Shatila. Rumah sakit Gaza dikepung tentara Israel yang hanya berjarak ¾ km dari rumah sakit.

Orang-orang sipil terlihat ketakutan dan mulai berlarian ke rumah sakit, korban mulai berdatangan. Yang pertama adalah seorang wanita yang tertembak di siku lengannya. Semua sendi yang menopang sikunya hilang sehingga tampak diantara robekan daging yang berlumuran darah (halaman 141).

Penderitaan yang dialami korban kebengisan Israel ini, membuat Ang Swee bersama rekan-rekannya membentuk Medical Aid for Palestinians (MAP). Tujuan utamanya adalah membantu bangsa Palestina yang terus berjuang melawan kekejaman yang berlangsung sampai saat ini.

Deskripsi :
Bagi dr Ang Swee Chai orang Palestina adalah teroris. Tapi kenyataannya justru yang menjadi teroris adalah Israel yang sebelumnya didukung baik karena latar belakang religinya.

Fakta yang ada di depan matanya, meluluhlantakkan kepercayaannya. Ia putuskan untuk membuktikan sendiri dengan menjadi sukarelawan medis di Beirut. Di sana, di kamp pengungsian Palestina, dr.Ang Swee menjadi saksi Pembantaian Sabra-Shatila, akhirnya ia menemukan jawaban. Ia berbalik memihak rakyat Palestina, memihak keadilan dan kemanusian.

Sosok dokter kelahiran Malaysia ini memang patut diteladani. Tidak hanya dalam menjalankan tugas kemanusiaan, tapi kepribadiannya dalam menilai setiap langkah yang ada di sekitarnya. Buku ini cocok dibaca bagi siapa saja yang ingin mengetahui bagaimana Israel menancapkan kekejamannya pada masyarakat muslim di Palestina.

Sumber : SSNet

Ahmadinejad

November 2, 2007

Pemimpin Bermartabat

Judul Buku : Ahmadinejad, David di Tengah Angkara Goliath Dunia
Penulis : Muhsin Labib, Ibrahim Muharram, Musa Kazhim, Alfian Hamzah
Halaman : xxv + 281 halaman
Penerbit : Hikmah Populer, Bandung

Menghadirkan sosok, visi dan kiprah politik Mahmoud Ahmadinejad Presiden Iran bukanlah tujuan utama, tapi harapan akan pemimpin yang bermartabat di tanah air tercinta. Sosok presiden muda yang tidak memiliki basis politik dengan persiapan terencana secara matang dan perjuangan kepartaian, yang umumnya sarat dengan intrik, persaingan dan money politic.

Yang menarik lagi, sosok Ahmadinejad punya loyalitas tinggi kepada negara dan bangsa serta ideloginya. Untuk itu, ia tidak pernah panik menanggapi ancaman asing, apalagi sibuk mengklarifikasi tuduhan ‘fundamentalis’ dan semacamnya. Dan yang terpenting adalah, ia presiden yang bebas KKN. (Penulis)

Sinopsis:
Adakah pemimpin yang bermartabat di sini ? Apakah yang sudah dilakukan para pemimpin kita untuk menegakkan martabat negara dan bangsa di antara bangsa dan negara-negara lainnya di dunia. Mungkin masih banyak pertanyaan lain yang ada di benak kita tentang harapan pemimpin yang baik dan mampu membawa amanah rakyat seperti janji-janji yang disampaikan sebelum terpilih jadi pemimpin negara.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut ternyata mampu dijawab oleh Ahmadinejad Walikota Teheran yang berjuang keras mengikuti pemilihan Presiden Iran tahun 2005. Sejak awal kampanye, Ahmadinejad yang waktu itu bersaing dengan kandidat lainnya seperti Akbar Hasyemi Rafsanjani, Mahdi Karrubi dan Dr.Mostafa Moin.

Saat kampanye berlangsung posisi Ahmadinejad berada di urutan ketujuh. Dia tidak punya uang sepeser pun untuk berkampanye sementara kandidat lainnya justru membagi-bagikan uang untuk pendukungnya.

Tapi keajaiban muncul mengangkat Ahmdinejad di urutan pertama sekaligus mengalahkan bapak Revolusi Islam Iran, Rafsanjani. Bahkan kalangan politikus Iran dan Timur Tengah lainnya tidak mampu memberikan opini, kenapa kandidat yang berbekal kesederhanaan bisa tampil jadi Presiden Iran ? (simak halaman 147).

Deskripsi :
Sosok Mahmoud Ahmadinejad Presiden Iran bagi kalangan politikus maupun mahasiswa memang sangat dekat. Ini disebabkan keberanian sang Presiden menentang kesombongan George W Bush Presiden Amerika Serikat baik melalui surat-suratnya yang dilayangkan ke Gedung Putih maupun dalam menjalankan roda pemerintahan yang secara terang-terangan tidak mau ‘didikte’ oleh AS.

Buku biografi yang ditulis oleh penulis-penulis muda yang pernah mengenyam pendidikan di Iran dan menguasai Bahasa Parsi, mengupas tuntas siapa sebenarnya Mahmoud Ahmadinejad yang membuat gerah pimpinan Gedung Putih. Buku ini sangat cocok bagi siapa saja yang ingin jadi pemimpin karena banyak suri tauladan yang ditunjukkan penulis.

Hanya saja untuk membaca buku ini perlu waktu tersendiri, mengingat ulasan-ulasan yang disampaikan penulis cukup mendalam tentang situasi politik Timur Tengah sampai pergantian kepemimpinan Iran dan munculnya Ahmadinejad.

Sumber : SSNet