Diskusi Laskar Pelangi
Februari 5, 2008
“Laskar Pelangi, diawal cerita berhasil mengajak saya pergi ke Belitong, Andrea Hirata rapi sekali membangun suasana sekolahnya yang hampir roboh itu. Tapi dibagian berikutnya, Andrea membuat saya tidak sabaran karena dia terlalu berlama-lama dengan PN TIMAH dan GEDONGnya ditambah lagi otak saya tidak punya tempat untuk mengingat bahkan untuk sekedar mengeja nama-nama ilmiah bunga dan istilah-istilah sains lainnya, bodohnya saya,” kata Laga Rahman penyiar Suara Surabaya saat bercerita novel Laskar Pelangi.
Novel best seller Laskar Pelangi yang diangkat dari memoar masa kecil ANDREA HIRATA si penulisnya ini, menjadi topik diskusi di Perpustakaan SS Media yang menghadirkan Sirikit Syah seorang penulis yang juga ‘pelahap’ buku, pada Selasa sore, 5 Februari 2008.
“Tapi ada beberapa bagian yang membuat saya, tersenyum kecil karena Andrea berhasil membuat saya membayangkan bagaimana KUCAI, A KIONG dan SAMSON yang punya terobsesi menjadi Ade Rai itu,’” lanjut cerita Laga sambil di sambut tawa peserta diskusi yang sore itu memenuhi ruangan Perpustakaan SS Media.
Kata Sirikit Syah, banyak manfaat yang diperoleh setelah membaca Laskar Pelangi dan Sirikit memberi motivasi para peserta diskusi untuk menjadi penulis yang bisa menghasilkan tulisan seperti karya ANDREA HIRATA. “Kisah kita di masa kecil hingga dewasa bisa jadi buku, seperti novel Laskar Pelangi ini. Tinggal kita bagaimana mengemasnya, menambahi dengan imajinasi kita, memainkan bahasa dengan gaya hiperbola, dan merangkainya sehingga enak dibaca orang lain,” ungkapnya.
Dunia pengarang itu sangat bebas. “Jika tidak ingin kisah pribadi kita diketahui, bisa kita sembunyikan yang ingin kita sembunyikan, atau kita bumbui dan kita tambahi. Kita bisa menokohkan seseorang, tapi namanya kita samarkan. Itu sah-sah saja. Makanya jadi pengarang itu enak, bebas berimajinasi kapanpun ia mau,”papar perempuan kelahiran Surabaya tahun 1960.
Meski mendapat pujian dari seluruh peserta diskusi, namun ada yang menganjal ketika mengikuti alur buku tersebut. Keajaiban-keajaiban yang ditunjukkan oleh Ikal dan teman-temannya di SD Muhammadiyah dengan kreativitas mereka yang mengherankan. Misalnya telah mengenal suku-suku Afrika dengan budaya mereka. Mereka seperti mengetahui ilmu pengetahuan di dunia ini padahal mereka sekolah di SD dan SMP yang keadaan yang sangat terbatas. Bagi salah satu peserta diskusi, Ikal tokoh utama di Laskar Pelangi terlalu pintar untuk memaparkan kisah masa kecilnya.
Keganjalan alur cerita itu dijelaskan Sirikit Syah bahwa Laskar Pelangi ditulis Andrea Hirata ketika Andrea sudah dewasa dan ketika Andrea sudah belajar di luar negeri. Laskar Pelangi merupakan novel memoar yang bercerita tentang masa kecil Andrea Hirata. Tapi novel ini bukan cerita anak-anak. Makanya gaya penulisannya ditulis dalam bentuk sastra. Ditambahkan Sirikit, Laskar Pelangi merupakan tulisan dari sudut pandang penokohan yang sangat unik dan belum ada yang menampilkan dengan cara seperti Andrea Hirata. Gaya sastranya sangat tinggi dan liar dan Andrea termasuk yang telat menemukan jati diri sebagai sastrawan, ungkap Sirikit Syah yang juga lulusan Sastra Inggris IKIP Surabaya.
Satu jam membahas apa yang tersirat dibalik novel Laskar Pelangi ini terasa hanya sekejap apalagi diselingi tanya jawab dan gelak tawa mengingat alur cerita Laskar Pelangi yang lucu. Menurut SIRIKIT, yang paling berkesan dari ANDREA HIRATA, dia sukses besar lewat tulisannya karena pengaruh seorang guru SD yang dia cintai. “Dia melakukan untuk untuk gurunya. Dan menjadi guru yang dicintai sebesar itu sungguh luar biasa. Kapan ya saya punya murid yang jadi penulis seperti ANDREA HIRATA?” kata SIRIKIT berharap.
Sebelum mengakhiri diskusi, SIRIKIT berpesan, jika jadi penulis, mulailah dengan membiasakan menulis diary. Baca buku apa saja dan tulislah ringkasannya. Karena dengan banyak membaca kita paling tidak akan menambah kosa kata, dan tulisan yang dihasilkan tidak terasa kering. “Targetkan misalnya satu minggu minimal baca satu buku. Setelah itu menulislah. Percuma kalau membaca saja tapi tidak menulis. Ya menulislah mulai sekarang, di saat ada waktu untuk menulis,” pungkas SIRIKIT yang juga pendiri Lembaga Konsumen Media (LKM).