Kudeta Mekkah

Maret 17, 2008

Judul Buku : Kudeta Mekkah, Sejarah Yang Tak Terkuak
Penulis : Yaroslav Trofimov
Penerbit : Pustaka Alvabet, Desember 2007
Tebal : 360 halaman

Penelitian Trofimov mengenail pengambilalihan Masjid Al Haram di Mekkah oleh kelompok militan Islam dimulai dengan mengetahui seluruh ancaman politik yang menakutkan. Penulis lalu menguji bagaimana aksi jihad global ini menginspirasi generasi teroris hari ini.

Trovimof seorang reporter Wall Sreet Journal memberi konteks melalui sebuah sejarah yang hidup mengenai akar dan bangkitnya ultra-fundamentalis Wahhabi serta menghadirkan kembali pertempuran di masjid tersebut dengan begitu eksploratif, seolah menjadi pemandangan yang mengerikan. Kegemparan yang diciptakan secara berkala tersebut tidak mengurangi alasan Trofimov bahwa Osama bin Laden dan gerakkannya adalah ideologi warisan kaum radikal Mekkah, tapi dengan sumber daya yang jauh lebih besar. (Portfolio Magazine)

Sinopsis :
Kudeta Mekkah pada 20 November 1979 memang banyak diketahui orang Timur Tengah. Tapi tidak banyak yang tahu kejadian persisnya seperti ini. Hal inilah yang mendorong Trofimov untuk mengungkapkan sebuah sejarah penting dalam dunia Islam atas terjadinya kudeta Mekkah yang menjadi pusat ibadah umat Islam dari seluruh dunia.

Dalam buku ini, penulis secara cermat mengawali kisahnya tentang kota Mekkah sebelum Juhaiman melakukan kudeta. Meski penulis bukanlah seorang muslim, tapi ketelitiannya dalam membaca sejarah Islam memang tidak diragukan lagi terutama saat campur tangannya Amerika ke tanah Islam. Bahkan ketika Kedutaan Amerika di Iran jatuh bertepatan dengan musim haji 1979, halaman 88. Para bangsawan Saudi khawatir bahwa gerakan Khumaini mengekspor Revolusi Islam bakal mendorong Ayatullah tersebut mencoba suatu pertunjukkan spektakuler yang sama di Masjid al- Haram.

Sementara ratusan pengikut Juhaiman baik dari Arab Saudi maupun dari luar berkumpul di Mekkah pada tahun itu. Keluarga inti Juhaiman dari Suku Badui yang bermukim di Najd sekarang dikumpulkan bareng sejumlah mahasiswa muda dari seluruh negeri, termasuk beberapa keturunan keluarga Arab Saudi terkemuka, yang telah dikecoki kepercayaan mesianistik oleh guru-gurunya.

Polisi rahasia Saudi, Mahabeth, juga tidak turut campur. Sangat susah diterima akal bahwa Mahabeth dengan jaringan informasi yang begitu kuat, secara sempurna tidak sadar akan rencana Juhaiman membaiat Imam Mahdi di Madji al-Haram. Saat tanggal 1 Muharam tiba, ketika para pemberontak mengambil alih masjid, Juhaiman berkonsentrasi di sayap militer operasi. Dia memastikan bahwa semua tembok telah terkunci dan para sniper-nya mengontrol semua yang mendekati tempat suci itu. Kalau tidak, seseorang bakal menyampaikan manifesto pemberontakan tersebut dan menjelaskan peristiwa bersejarah ini kepada dunia Islam.

Deskripsi :
Kudeta Mekkah bisa dikategorikan sebagai buku dokumenter karya seorang reporter. Melalui investigated report selama 1 tahun, Trofimov harus menghadapi berbagai rintangan dan tantangan untuk menungkap peristiwa 20 November 1979. Bagi generasi yang lahir setelah tahun itu, tentunya buku ini sangat penting dibaca.

Alasannya, dalam buku ini diceritakan bagaimana sebenarnya Kerajaan Arab Saudi pasca campur tangan Amerika, keberadaan Juhaiman sosok Islam aliran keras serta keterkaitan Osama bin Laden yang selalu diburu agen FBI dan CIA. Apalagi setelah adanya tragedi 11 September 2001.

Bagi yang ingin mengetahui sejarah perkembangan Islam, buku ini layak menjadi referensi. Banyak informasi yang ditulis Trofimov bagaimana peran non muslim memicu terjadinya Kudeta Mekkah.

Sumber : SSNet

Membaca Saja, Kok Sulit

Maret 12, 2008

Lebih banyak mana koleksi sepatu Anda atau tumpukan buku di lemari? Tidak bemaksud meledek. Tapi membeli buku, bagi kebanyakan orang, rasanya mahal dan buka kebutuhan mendesak. Membeli sepatu, apalagi memang diidamkan sejak lama, rasanya, harus didahulukan. Koleksi sepatu bertambah terus (dengan berbagai alasan, masuk akal atau tidak), koleksi buku jalan di tempat. Budaya membaca memang baru tumbuh. Novel-novel populer yang bagus, seperti tetralogi Andrea Hirata, buku-buku Dewi Lestari, Fira Basuki, Ayu Utami dan yang lainnya, membantu mereka yang tidak akrab dengan buku, untuk mulai membaca.

Nonton TV sempat, kenapa membaca tidak sempat ? padahal kegiatan yang satu ini sangat fleksibel, bisa dilakukan di mana dan kapan saja.
Duta Baca Indonesia yang dipilih Perpustakaan Nasional, Tantowi Yahya, mengamati minat baca orang Indonesia tidak termasuk tinggi, tapi juga tidak rendah. sedang-sedang saja.
“Masalahnya mereka yang punya minat membaca, sering kali tidak tahu harus membaca apa. jangankan membeli bacaan, kebutuhan primer saja belum tentu terpenuhi. Masih banyak orang yang penghasilannya kurang dari 50 ribu per hari, jumlah yang sama dengan harga rata-rata sebuah buku,” katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), orang Indonesia belum menganggap bacaan sebagai sumber informasi. Minat baca kita terbilang statis sejak 1993. Hingga 2003, hanya naik 0,2%, sementara minat nonton TV meningkat hingga 211,1%. Data 2006 menunjukkan dari tital penduduk baru 23,5% yang mencari informasi lewat bacaan. Sisanya lebih menyukai televisi dan radio. Mengapa demikian ?

Tantowi setuju bahwa salah satu hal yang membuat masyarakat kita malas membaca adalah televisi. “Faktor lain, kita adalah masyarakat verbal, yang lebih senang ngomong dan didongengin, diceritain. Kita belum menjadi reading society. Kebiasaan yang sudah menjadi budaya inilah yang perlu diubah tapi tentunya harus bertahap, kata pria yang setiap subuh rutin membaca berita di media online ini.

Ambil contoh sederhana saja. Berapa di antara kita yang memilih membaca peta jika mencari suatu alamat? rasanya tak banyak, Sebagian besar lebih suka bertanya kepada orang di jalanm daripada harus repot-repot mempelajari peta. Kita lebih suka mendengarkan orang lain ‘mendongeng’ hanya untuk mengetahui arah jalan. (Sumber : Femina)

Bagaimana dengan minat baca kalian ? di Perpustakaan SS Media

  • ada 818 judul buku dengan kategori Agama & Psikologi, Fiksi, Ilmu Pengetahuan, Marketing, Bisnis dan Ekonomi, Media Cetak dan Radio, Karya Umum dan Teknologi.
  • Ada Majalah Tempo terbit setiap Selasa, SWA terbit 2 mingguan (Majalah Bisnis), Cakram-MIX terbit tiap tengah bulan (majalah Marketing dan Bisnis), National Geographic terbit tiap bulan (majalah Sains & Fotografi), Rolling Stone terbit tiap awal bulan (majalah Musik), Reader Digest Indonesia terbit tiap awal bulan – Femina terbit setiap Senin (majalah Life Style), Concept terbit 2 bulan sekali (Majalah Design Grafis)
  • Ada surat kabar Jawa Pos, Surya, Kompas dan Kontan (edisi Harian, Mingguan dan Bulanan).
  • Ada Majalah Umum berbahasa Inggris, majalah agama seperti MATAN, Al Falah
  • Ada Ensiklopedi, Kamus Bahasa Inggris-Indonesia, Kamus Serapan Bahasa Asing, Peta Surabaya, Peta Indonesia dan Dunia.
  • Ada 2 Koleksi VCD National Geographic

Dari koleksi yang ada di Perpustakaan mudah-mudahan minat membaca jadi tumbuh. Jadi belum terlambat kalau kalian mulai membiasakan untuk membaca. Cari buku yang paling disukai dulu atau buku yang sudah terkenal (best seller) karena sudah terbukti cocok dengan selera banyak orang, jadi akan lebih besar kemungkinannya untuk kita sukai. Paling utama diantara semuanya, berawal dari niat yang ingin tahu segalanya, karena dengan Membaca Kita akan tahu isi dunia sebab Membaca merupakan Jendela Dunia.

“Semua orang membicarakannya, saya ketinggalan zaman kalau tidak tahu isinya.” Alasan itu sah saja. Membaca memang harus menjadi tren dulu, setelah itu kita baru bisa berharap orang membeli dan membaca karena keinginannya sendiri.”

China Undercover

Maret 8, 2008

Banyak Rahasia Di Balik Kemajuan Cina

Judul Buku : China Undercover, Rahasia Di Balik Kemajuan Cina
Penulis : Chen Guidi dan Wu Chuntao
Penerbit : Ufuk Press, 2007
Tebal : 362 halaman

Revolusi Cina sejak awal merupakan bencana bagi mayoritas luas rakyat Cina terutama di tingkat petani di daerah pedesaan. Ini terbukti dari laporan investigasi yang dilakukan pasangan suami istri Chen Guidi dan Wu Chuntao yang dikumpulkan dalam buku ini. Buku Chen dan Wu membantu kita memandang kebijakan komunis terkini dalam perspektif yang sebenarnya.

Ini sangat bertolak belakang dengan pelajaran yang diperoleh dalam kelas-kelas mengenai sejarah Cina, antropologi dan ekonomi, bahwa Komunis datang untuk menguasai dan membagi-bagikan tanah kepada jutaan petani yang tak memiliki tanah, mematahkan kekuasaan kelas tuan tanah yang parasit. (John Pomfret mantan Kabiro Beijing untuk Washington Post)

Sinopsis :
Chen dan Wu memang bukan seorang reporter. Tapi pemaparan cerita yang ditulis dalam China Undercover, memposisikan seperti seorang reporter yang melaporkan hasil investigasi tentang penyengsaraan petani Cina di beberapa wilayah yang ada di Propinsi Anhui. Hasil tulisan berdasarkan kisah nyata ini, memang sempat ‘menyinggung’ perasaan penguasa bahkan mereka dikucilkan orang-orang yang mengganggap Chen dan Wu seorang pengkhianat negara.

Namun jiwa dan semangat untuk mengungkapkan bagaimana sebenarnya para tiran menindas kaum lemah, Chen dan Wu tidak patah arang. Dalam awal bukunya, mereka mengungkap tentang keberanian Ding Zuoming petani biasa dari Desa Luying di wilayah hukum Kecamatan Jiwangchang di Kabupaten Luxin Anhui. Sosok Ding dibandingkan petani umumnya memang agak berbeda.

Meski hanya petani namun berkat informasi yang diperoleh baik dari radio maupun lembaran surat kabar, lebih banyak terlibat dalam kesulitan daripada banyak petani biasa. Pada akhirnya, dia harus membayar dengan nyawanya saat akan mengaudit pembukuan Desa Luying. Pengorbanan Ding Zuoming tidak sia-sia dan justru inilah yang memicu keberanian para petani lainnya menuntut keadilan atas kesewenangan para kader partai yang berkuasa.

Nasib yang sama dialami Zhang Quiyu saat akan melakukan audit pembukuan Desa Zhang dibawah pemerintahan Zhang Quiquan. Bahkan berita pembunuhan di desa ini dipolitisir penguasa untuk menutupi kebobrokan mereka. Chen dan Wu berdasarkan hasil investigasinya, dengan cermat memberikan gambaran bahwa inilah wajah para penguasa Cina yang sebenarnya, (halaman 81).

Deskripsi :
Memang umumnya yang terlihat baik atau terkesan maju dan modern dalam sebuah pemerintahan belum tentu hasilnya dinikmati rakyat. Terkadang justru kesan itulah yang menutupi kondisi sebenarnya, seperti kisah dalam China Undercover. Buku ini akan menambah wawasan bagi siapa saja, yang ingin mengetahui mekanisme kepemimpinan di Cina mulai dari pimpinan tertinggi hingga di akar rumput (grass root).

Tanpa pengawasan langsung di akar rumput, penderitaan yang hanya dirasakan rakyat jelata. Untuk itu, seorang pemimpin yang bijaksana perlu mengetahui secara langsung, apa yang terjadi di tingkat bawah, tidak sekadar terima laporan. Buku ini bisa menjadi ‘nasihat’ bijak bagi siapapun yang ingin menjadi pemimpin beramanah untuk rakyat. Selain menulis China Undercover, Wu dan Chen saat ini menyiapkan pembeberan baru berjudul Fighting for the Peasants in China.

Sumber : SSNET

Bung Tomo Menggugat

Maret 1, 2008

Judul Buku : Bung Tomo Menggugat
Penulis : Sutomo (Bung Tomo)
Pene
rbit : Visi Media
Tebal : 246 halaman

Gugatan Bung Tomo bermakna majemuk, dalam arti dimensi dan obyeknya beragam. Gugatan Bung Tomo bisa hadir berbentuk analisis kritis, sebagaimana tertangkap dari pemaparannya tentang hubungan politisi sipil dan militer yang saling menunggangi sehingga batas perannya menjadi tidak jelas, dengan konsekuensi membahayakan demokrasi.

Selain itu, gugatan Bung Tomo berarti pula sebagai tuntutan politik sebagaimana dikemukakannya dalam bentuk pembubaran DPR dan partai politik oleh pemerintah karena kinerjanya yang tidak produktif melindungi dan memperjuangkan nasib serta kepentingan rakyat, yang justru merupakan konstituennya.

Gugatan Bung Tomo yang bermakna kritik tajam, jelas sekali terlihat saat ia mengoreksi Bung Karno dan para jenderal yang dilihatnya mengalami dekadensi moral karena melemahkan nilai keutuhan keluarga dengan beristri lebih dari satu dan terjebak dalam ‘main perempuan’. (Arbi Sanit)

Sinopsis :
Menembus Kabut Gelap : Bung Tomo Menggugat berisikan dokumen-dokumen hasil pemikiran berupa tulisan, artikel dan surat (baik resmi maupun tidak resmi). Surat-surat tersebut ditujukan kepada Bung Karno, Pak Harto, Presiden AS Eissenhower, anggota Partai Indonesia Raya, LVRI dan sebagainya serta beberapa artikel tentang kepahlawanan dan persoalan antar generasi.

Sebagian besar tulisannya merupakan kritik yang keras dan tajam terhadap situasi dan kondisi zamannya. Kritik yang tidak sekadar kritik. Selain mengritik, Bung Tomo juga memberikan solusi atau cara-cara penyelesaian masalah, meskipun itu kesannya masih sangat sederhana.

Satu contoh surat yang ditulis Bung Tomo yang ditujukan pada Soeharto mantan Presiden RI di tahun 1972. Dalam surat tersebut, Bung Tomo mengingat kepemimpinan Soeharto di era Orde Baru. Semula dengan tumbangnya pemerintahan Bung Karno, Soeharto bisa memperbaiki kondisi carut marutnya bangsa Indonesia.

Namun kenyataannya, itu masih berlangsung terus hingga pemerintahan Orde Baru. Yang menarik dalam surat Bung Tomo tentang berita yang dimuat di media massa dan sudah diketahui banyak masyarakat.

Berita tersebut tentang seorang wanita cantik istri seseorang didatangi ajudan Perwira Tinggi TNI Jenderal dimana “sang Bapak” dari ajudan menginginkan wanita tersebut. Hati Bung Tomo terasa tersayat dengan berita tersebut dan meminta Soeharto menyadari hal itu dan tidak terjebak dalam genggaman cukong-cukong Cina dengan budaya ‘memberikan’ wanita cantik untuk ‘dimakan’, halaman 140.

Dalam buku ini pula, Bung Tomo memberikan beberapa solusi terkait dengan hubungan antar generasi pada setiap zaman. Dengan bijak, Bung Tomo memberikan contoh bagaimana bisa menyatukan antara generasi di zaman penjajahan Belanda dan masa revolusi fisik.

Bagian lain yang menarik disimak adalah soal penilaian Bung Tomo tentang pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan dan semangat 10 November 1945 yang telah dikhianati. Dalam bagian ini Bung Tomo menulis dengan bentuk question dan answer, halaman 192.

Deskripsi :
Buku ini menjadi dokumen penting bagi siapa saja yang ingin mengetahui kebenaran soal negara, soal bangsa dan soal moral. Banyak pemikiran-pemikiran brilian yang disampaikan Bung Tomo dalam surat-suratnya. Sangat bagus dibaca oleh generasi saat ini, sehingga akan mengetahui secara benar siapa Bung Tomo itu.

Keberadaan Hj SULISTINA SUTOMO istri Bung Tomo yang secara telaten mengumpulkan dokumen-dokumen penting tersebut patut dihargai. Tanpa bantuan istri almarhum, tentunya buku ini tidak mungkin terwujud dan anak bangsa tidak akan mengetahui secara benar tentang sosok Bung Tomo.

Sumber : SSNET