Bung Tomo Menggugat
Maret 1, 2008
Judul Buku : Bung Tomo Menggugat
Penulis : Sutomo (Bung Tomo)
Penerbit : Visi Media
Tebal : 246 halaman
Gugatan Bung Tomo bermakna majemuk, dalam arti dimensi dan obyeknya beragam. Gugatan Bung Tomo bisa hadir berbentuk analisis kritis, sebagaimana tertangkap dari pemaparannya tentang hubungan politisi sipil dan militer yang saling menunggangi sehingga batas perannya menjadi tidak jelas, dengan konsekuensi membahayakan demokrasi.
Selain itu, gugatan Bung Tomo berarti pula sebagai tuntutan politik sebagaimana dikemukakannya dalam bentuk pembubaran DPR dan partai politik oleh pemerintah karena kinerjanya yang tidak produktif melindungi dan memperjuangkan nasib serta kepentingan rakyat, yang justru merupakan konstituennya.
Gugatan Bung Tomo yang bermakna kritik tajam, jelas sekali terlihat saat ia mengoreksi Bung Karno dan para jenderal yang dilihatnya mengalami dekadensi moral karena melemahkan nilai keutuhan keluarga dengan beristri lebih dari satu dan terjebak dalam ‘main perempuan’. (Arbi Sanit)
Sinopsis :
Menembus Kabut Gelap : Bung Tomo Menggugat berisikan dokumen-dokumen hasil pemikiran berupa tulisan, artikel dan surat (baik resmi maupun tidak resmi). Surat-surat tersebut ditujukan kepada Bung Karno, Pak Harto, Presiden AS Eissenhower, anggota Partai Indonesia Raya, LVRI dan sebagainya serta beberapa artikel tentang kepahlawanan dan persoalan antar generasi.
Sebagian besar tulisannya merupakan kritik yang keras dan tajam terhadap situasi dan kondisi zamannya. Kritik yang tidak sekadar kritik. Selain mengritik, Bung Tomo juga memberikan solusi atau cara-cara penyelesaian masalah, meskipun itu kesannya masih sangat sederhana.
Satu contoh surat yang ditulis Bung Tomo yang ditujukan pada Soeharto mantan Presiden RI di tahun 1972. Dalam surat tersebut, Bung Tomo mengingat kepemimpinan Soeharto di era Orde Baru. Semula dengan tumbangnya pemerintahan Bung Karno, Soeharto bisa memperbaiki kondisi carut marutnya bangsa Indonesia.
Namun kenyataannya, itu masih berlangsung terus hingga pemerintahan Orde Baru. Yang menarik dalam surat Bung Tomo tentang berita yang dimuat di media massa dan sudah diketahui banyak masyarakat.
Berita tersebut tentang seorang wanita cantik istri seseorang didatangi ajudan Perwira Tinggi TNI Jenderal dimana “sang Bapak” dari ajudan menginginkan wanita tersebut. Hati Bung Tomo terasa tersayat dengan berita tersebut dan meminta Soeharto menyadari hal itu dan tidak terjebak dalam genggaman cukong-cukong Cina dengan budaya ‘memberikan’ wanita cantik untuk ‘dimakan’, halaman 140.
Dalam buku ini pula, Bung Tomo memberikan beberapa solusi terkait dengan hubungan antar generasi pada setiap zaman. Dengan bijak, Bung Tomo memberikan contoh bagaimana bisa menyatukan antara generasi di zaman penjajahan Belanda dan masa revolusi fisik.
Bagian lain yang menarik disimak adalah soal penilaian Bung Tomo tentang pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan dan semangat 10 November 1945 yang telah dikhianati. Dalam bagian ini Bung Tomo menulis dengan bentuk question dan answer, halaman 192.
Deskripsi :
Buku ini menjadi dokumen penting bagi siapa saja yang ingin mengetahui kebenaran soal negara, soal bangsa dan soal moral. Banyak pemikiran-pemikiran brilian yang disampaikan Bung Tomo dalam surat-suratnya. Sangat bagus dibaca oleh generasi saat ini, sehingga akan mengetahui secara benar siapa Bung Tomo itu.
Keberadaan Hj SULISTINA SUTOMO istri Bung Tomo yang secara telaten mengumpulkan dokumen-dokumen penting tersebut patut dihargai. Tanpa bantuan istri almarhum, tentunya buku ini tidak mungkin terwujud dan anak bangsa tidak akan mengetahui secara benar tentang sosok Bung Tomo.
Sumber : SSNET