Suara Surabaya Bukan Radio

April 28, 2010

Judul Suara Surabaya Bukan Radio
Pengarang Arifin BH
Penerbit_Distribusi Suara Surabaya Media – Surabaya
Tahun Terbit 2010
Bulan Terbit April
Edisi I
ISBN 978-979-19879-0-5
Halaman 448
Kategori Sejarah

Deskripsi :

Dahulu kegiatan radio sebatas sebagai ajang permintaan lagu dan kirim salam buat pendengarnya. Namun dengan semakin berkembangnya zaman, radio mengalami pergeseran menjadi industri radio. Pergeseran itu dipengaruhi oleh pendengar atau inisiatif pengelola radio tersebut. Melalui radio, -setidaknya dikembangkan oleh Suara Surabaya-, masyarakat bisa melakukan interaksi, saling memberi peringatan, berani mengemukakan pendapat dengan tetap menghargai perbedaan.

Dari momentum 25 tahun Suara Surabaya terbesit keinginan untuk melakukan pengamatan, pengumpulan data dan menulis buku tentang Radio Suara Surabaya yang bercerita dalam membangun bisnis bersama idealisme.

Buku Suara Surabaya Bukan Radio bercerita tentang keunikan, ciri khas, termasuk sesuatu yang dianggap nyeleneh bahkan bertolak belakang dengan teori kemapanan. Di sinilah contoh sukses sebuah organisasi yang mampu berjalan dan berproses menyelesaikan masalah dan mengatasi rintangan dengan cara yang cerdas, yang tidak lazim. Pesan dari cara dan strategi manajemen SS adalah, tiada satu hari yang dijalaninya tanpa ragu-ragu dan senantiasa dibarengi oleh adanya perbaikan yang di lakukan oleh perusahaan ini.

Kesan saya setelah tuntas membaca adalah bukan menceritakan duka lara mencapai puncak tapi membedah jalan baru menuju jurnalisme radio, Persis seperti judulnya, Suara Surabaya Bukan Radio. Bahkan sejenak terpikir, buku ini tak bisa sekadar buku peringatan sekian tahun SS tapi penanda bagaimana memperjuangkan cara pikir baru penyajian berita dan itu pun tertulis dalam salah satu bagian buku ini. Buku semacam buku besar catatan yang terekam bersama-sama oleh sekian banyak manusia di kampung media dan pendengarnya.

Suara Surabaya sebagai media sangat menarik dalam perjalanan menuju industri radio yang fenomena berkembang dengan positif. Menjadi pelopor Format news atau informasi, Padahal, di tahun 1983 radio swasta hanya menyiarkan musik, dan format berita hanya didominasi oleh RRI. Suara Surabaya juga menjadi pusat Studi Keilmuan sesuai teori jurnalisme radio. Pada tahun 2000 menjadi pelopor konvergensi Radio Internet dan Pelopor Teknologi Digital Broadcasting pada tahun 2003. Di dunia marketing sudah mengacu pada Marketing New Wave. Dan yang penting sejak tahun 1994, Suara Surabaya mengajak pendengarnya untuk berinteraksi menjalankan peran layaknya wartawan : melihat, mengamati, dan melapor kejadian. Kegiatan Inilah yang kemudian disebut banyak orang sebagai Citizen Journalism. Perkembangan terbaru yang sangat menarik adalah keberhasilan menembus dimensi ruang dalam sisi sosok penyiar dan aktivitas ruang siaran. Fasilitas Video Streaming yang diperkenalkan Juli 2008 berhasil menghadirkan SSFM hampir secara fisik kepada pendengar, di mana pun mereka berada.

Di Internal Suara Surabaya tradisi “duduk satu meja” berjalan efektif. Perkara apa saja bisa selesai tanpa satu sama lain merasa menang-kalah. Meski kadangkala harus melibatkan tim atau bagian lain. Tentu saja tidak serta merta hasilnya bisa segera nampak. Salah satu solusi yang ditemukan setelah serangkaian diskusi adalah membangun sistem pemantauan konten siaran berupa radio skrip, berisi urut-urutan materi siaran setiap jamnya.
Dalam mencapai tujuan yang diinginkan dalam setiap diskusi, Suara Surabaya mengacu pada teori Gde Prama tentang analogi air. Sifat lunak air sangat berbeda dengan pengertian lunak pada umumnya yang memberi kesan selalu mengalah pada yang keras. Kelenturan air tidak mengalah maupun mengalahkan. Pohon tidak dipaksa minggir. Batu tidak disuruh pergi. Namun pada saat yang sama air berhasil mengalir dengan penuh kelenturan. Ini pertanda, dan ini penting direnungkan. Pertanda alam yang tidak mengalah, tidak mengalahkan, akan tetapi berhasil mencapai tujuan.

Dalam lingkungan Suara Surabaya ada figur yang mudah diterima oleh siapapun. Figur ini “tercipta” untuk menyediakan diri berbagi antar sesama. Tidak menyukai konflik, dan steril terhadap segala macam isu, tetapi senantiasa bergerak pada jalur yang benar. Para pemikir organisasi bisnis sering menyebutnya sebagai kelompok Informal dalam sebuah perusahaan. Para ndilalah ini berada pada posisi menguntungkan semua pihak. Mencairkan kebekuan, dan ringan tangan! Kelompok informal ini, sekalipun tidak harus berada pada jajaran top manajemen, tetapi menjadi salah satu penyelamat perusahaan.

Begitu banyak testimoni dalam buku ini dari tokoh-tokoh seperti Dahlan Iskan (Dirut PLN), tokoh intelektual berbagai bidang dan Kru Suara Surabaya sendiri. Dalam buku ini disampaikan juga oleh Profesor Hotman Siahaan soal refleksi, “Setelah mengudara hingga lebih seperempat abad, SS didengar banyak orang. Kini saatnya SS mendengarkan”. SS Belajar Mendengarkan, setelah selama ini didengarkan!

Buku Suara Surabaya Bukan Radio ini benar-benar sudah bisa dikesankan sebagai memenuhi differensiasi karena dilihat dari judulnya, penjelasan seperti bertutur dan mengulas Contoh Kisah Sukses Radio sebagai sumber telaah.

Buku setebal 448 halaman ini tidak menampilkan foto dan gambar, karena Suara Surabaya tidak menginginkan buku ini sebagai buku pariwara atau bukan bagian dari promosi dan pembangun citra belaka radio Suara Surabaya, demikian kata Arifin BH, penulis buku Suara Surabaya Bukan Radio kepada saya. Buku setebal itu nyaman untuk dibaca karena jenis kertas yang ringan dan huruf yang besar. Namun bagaimanapun masih perlu di kritisi dalam penulisan dan pengumpulan data yang kurang update. Secara keseluruhan jika membaca berurutan seperti membaca sebuah cerita perjalanan kisah sukses radio.

Terakhir, Selamat atas penerbitan Buku Radio Suara Surabaya Bukan Radio yang di terbitkan oleh Radio Suara Surabaya, sebuah embrio memasuki industri publishing. Semoga sukses untuk lauching Buku Suara Surabaya Bukan Radio tanggal 30 April 2010 di Hotel Bumi Surabaya.

*At last but not least, Terima kasih kepada pak Errol Jonathans sehingga saya ‘terjerumus’ pada dunia buku dan library.*

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.