Membaca Saja, Kok Sulit
Maret 12, 2008
Lebih banyak mana koleksi sepatu Anda atau tumpukan buku di lemari? Tidak bemaksud meledek. Tapi membeli buku, bagi kebanyakan orang, rasanya mahal dan buka kebutuhan mendesak. Membeli sepatu, apalagi memang diidamkan sejak lama, rasanya, harus didahulukan. Koleksi sepatu bertambah terus (dengan berbagai alasan, masuk akal atau tidak), koleksi buku jalan di tempat. Budaya membaca memang baru tumbuh. Novel-novel populer yang bagus, seperti tetralogi Andrea Hirata, buku-buku Dewi Lestari, Fira Basuki, Ayu Utami dan yang lainnya, membantu mereka yang tidak akrab dengan buku, untuk mulai membaca.
Nonton TV sempat, kenapa membaca tidak sempat ? padahal kegiatan yang satu ini sangat fleksibel, bisa dilakukan di mana dan kapan saja.
Duta Baca Indonesia yang dipilih Perpustakaan Nasional, Tantowi Yahya, mengamati minat baca orang Indonesia tidak termasuk tinggi, tapi juga tidak rendah. sedang-sedang saja.
“Masalahnya mereka yang punya minat membaca, sering kali tidak tahu harus membaca apa. jangankan membeli bacaan, kebutuhan primer saja belum tentu terpenuhi. Masih banyak orang yang penghasilannya kurang dari 50 ribu per hari, jumlah yang sama dengan harga rata-rata sebuah buku,” katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), orang Indonesia belum menganggap bacaan sebagai sumber informasi. Minat baca kita terbilang statis sejak 1993. Hingga 2003, hanya naik 0,2%, sementara minat nonton TV meningkat hingga 211,1%. Data 2006 menunjukkan dari tital penduduk baru 23,5% yang mencari informasi lewat bacaan. Sisanya lebih menyukai televisi dan radio. Mengapa demikian ?
Tantowi setuju bahwa salah satu hal yang membuat masyarakat kita malas membaca adalah televisi. “Faktor lain, kita adalah masyarakat verbal, yang lebih senang ngomong dan didongengin, diceritain. Kita belum menjadi reading society. Kebiasaan yang sudah menjadi budaya inilah yang perlu diubah tapi tentunya harus bertahap, kata pria yang setiap subuh rutin membaca berita di media online ini.
Ambil contoh sederhana saja. Berapa di antara kita yang memilih membaca peta jika mencari suatu alamat? rasanya tak banyak, Sebagian besar lebih suka bertanya kepada orang di jalanm daripada harus repot-repot mempelajari peta. Kita lebih suka mendengarkan orang lain ‘mendongeng’ hanya untuk mengetahui arah jalan. (Sumber : Femina)
Bagaimana dengan minat baca kalian ? di Perpustakaan SS Media
- ada 818 judul buku dengan kategori Agama & Psikologi, Fiksi, Ilmu Pengetahuan, Marketing, Bisnis dan Ekonomi, Media Cetak dan Radio, Karya Umum dan Teknologi.
- Ada Majalah Tempo terbit setiap Selasa, SWA terbit 2 mingguan (Majalah Bisnis), Cakram-MIX terbit tiap tengah bulan (majalah Marketing dan Bisnis), National Geographic terbit tiap bulan (majalah Sains & Fotografi), Rolling Stone terbit tiap awal bulan (majalah Musik), Reader Digest Indonesia terbit tiap awal bulan – Femina terbit setiap Senin (majalah Life Style), Concept terbit 2 bulan sekali (Majalah Design Grafis)
- Ada surat kabar Jawa Pos, Surya, Kompas dan Kontan (edisi Harian, Mingguan dan Bulanan).
- Ada Majalah Umum berbahasa Inggris, majalah agama seperti MATAN, Al Falah
- Ada Ensiklopedi, Kamus Bahasa Inggris-Indonesia, Kamus Serapan Bahasa Asing, Peta Surabaya, Peta Indonesia dan Dunia.
- Ada 2 Koleksi VCD National Geographic
Dari koleksi yang ada di Perpustakaan mudah-mudahan minat membaca jadi tumbuh. Jadi belum terlambat kalau kalian mulai membiasakan untuk membaca. Cari buku yang paling disukai dulu atau buku yang sudah terkenal (best seller) karena sudah terbukti cocok dengan selera banyak orang, jadi akan lebih besar kemungkinannya untuk kita sukai. Paling utama diantara semuanya, berawal dari niat yang ingin tahu segalanya, karena dengan Membaca Kita akan tahu isi dunia sebab Membaca merupakan Jendela Dunia.
“Semua orang membicarakannya, saya ketinggalan zaman kalau tidak tahu isinya.” Alasan itu sah saja. Membaca memang harus menjadi tren dulu, setelah itu kita baru bisa berharap orang membeli dan membaca karena keinginannya sendiri.”