Dari Kilometer 0,0

Februari 18, 2008

Judul Buku : Dari Kilometer 0,0
Penulis : Andi A. Mallarangeng
Penerbit : RDI JUrnal Nasional Publishing Group
Halaman : 302, Oktober 2007

Kapan saja, di mana saja. Begitulah kredo Andi Alfian Mallarangeng dalam urusan menulis. Maksudnya, kapan ada waktu, tanpa terikat tempat, juru bicara presiden itu mengeluarkan notebook-nya dan menulis untuk kolom tetapnya di harian Jurnal Nasional terbitan Jakarta. Topik yang dibahasnya bermacam-macam. Materinya dicomot dari pengalaman sehari-hari bersama Presiden SBY. Tentu, banyak hal yang dialaminya. Maka, untuk kolom mingguannya itu ia memilih tema yang dinilai menarik, hangat, dan relevan pula kebijakan pemerintah. Minggu demi minggu, kolomnya terus mengalir. Hasilnya kolomnya sudah bertumpuk. Lalu Andi menerbitkannya tulisan sebagai buku.

Dalam buku ini, kolom kolom itu sengaja disusun secara kronologis agar pembaca bisa mengikuti perjalanan kepresidenan Presiden SBY secara runtut dari minggu ke minggu. Dengan begitu, pembaca dapat melihat berbagai peristiwa, kebijakan, pernyataan, tindakan atau situasi penting atau menarik dari kacamata juru bicara kepresidenan.

Diberi judul “Dari Kilometer 0,0” karena ketika Andi dimasa kecil selalu bepergian dan melihat tanda-tanda kilometer untuk mengetahui apakah ia sudah dekat dengan tempat tujuan atau tidak. Biasanya kata ANDI kilometer 0 itu dihitung dari pusat kota-kota seperti alun-alun atau kantor pemerintahan. “Secara simbolik kilometer 0 di negara Indonesia berada di sekitar istana kepresidenan yaitu Istana Negara dan Monas. Tambahan desimal pada kilometer 0,0 sekedar membedakan dengan cara mengukur yang lain yaitu kilometer 0 yang ada di Sabang untuk menunjukkan titik awal geografis Nusantara “Dari Sabang sampai Merauke”.

Kata Hotman Siahaan Pakar Sosiologi Universitas Airlangga yang menjadi pembicara bedah buku Dari Kilometer 0,0 di Hotel Sheraton Surabaya, Jumat 15 Februari 2008 menilai Andi mempunyai kepiawaian dan keliaran berpikir yang sangat jeli dalam tulisan-tulisannya. Bahkan ia mengatakan keliaran berpikir ANDI MALARANGGENG sudah gawan bayi (bawaan sejak lahir). “Membaca buku ini saya tidak surprise, karena saya tahu ANDI itu seperti apa, tetapi saya lebih surprise ditengah-tengah kesibukannya, ANDI bisa membuat sebuah buku,” kata HOTMAN seperti dikutip suarasurabaya.net.

Parijs Van Java
Mobil Kepresidenan boleh anti peluru, tetapi bau itu tetap masuk melalui saluran AC, membuat Presiden bertanya-tanya. Ada di mana kita? Inikah Bandung? Paris Van Java? ‘Sampah Pak,’ ajudan Presiden mencoba menjelaskan. ‘Ada sampah di mana-mana dan tak kemana-mana’ kata presiden-presiden mahasiswa se-Bandung Raya ketika bertemu Presiden SBY seusai acara berlari. Mereka meminta Presiden SBY turun tangan.

Ada SBY di Friendster
Bagaimana perasaan anda jika ada orang lain mengaku sebagai Anda, menggunakan identitas Anda, bahkan menggunakan identitas Anda? Selamat datang di dunia maya internet. Karena di dunia maya pun kebenaran dan kejujuran juga harus ditegakkan. Karena itu, sekali-sekali masuklah ke dunia maya dan cek kalau-kalau identitas Anda digunakan orang lain tanpa sepengetahuan anda.

Cinta yang Terhalang di Kuba
Gara-gara politik, dua hati jadi terpisah. Masih ingat cerita tragedi cinta pada generasi tahun 50-an dan 60-an? Widodo terdampar di negeri orang seperti orang yang tak punya negara, stateless. Widodo berusaha terus untuk kembali ke tanah air karena sang kekasih Widari menunggu untuk dilamar. Tapi usaha kembali ke tanah air tak membuahkan hasil karena paspor orde lama tidak berlaku sedangkan paspor orde baru tidak bisa keluar.

Indonesia Raya Berkumandang di Guilin
Tiba-tiba salah seorang diantara mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang kemudian serempak diikuti oleh yang lain. Sekitar 20 sampai 30 orang menyanyikan lagu Indonesia Raya dari atas tebing di antara petugas keamanan. Presiden SBY dan rombongan tertegun, lalu menghentikan langkah sambil ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Dan orang-orang yang menyanyikan lagu Indonesia Raya itu adalah turis Indonesia yang sedang berkunjung ke Reed Flute Cave di Guilin. Ini merupakan pertanda positif tentang semakin tumbuh subur Nasionalisme Indonesia.

Lumpur Similar

Februari 17, 2008

Misteri Perangkap Cinta

Judul Buku : Lumpur Similar, Misteri Perangkap Cinta
Penulis : Alfian Malik
Penerbit : PT Andal Krida Nusantara
Tebal : 248 halaman

Cinta tidak pernah menjadi rumusan matematika. Apapun rumusnya, di sela-selanya selalu ada misteri dan ruang hampa. Alfian Malik sang penulis, mengungkapkannya dengan elok, meminjam sebuah latar etnik yang mirip sebuah selimut perca, dengan ribuan sambungan yang saling memintal dan menjerat. (Penerbit)

Sinopsis :
Pertemuan Tegar Patih dengan Khariza seorang kerabat dari Kesultanan Brunei dalam pemanasan sebuah reli mobil di pedalaman Sumatera (Sabang Merauke International Event Rally-SMILER), membawa perjalanan yang misterius. Bahkan mereka masuk dalam dunia magis masyarakat terpencil di kawasan Riau.

Dalam perjalanan misterius inilah, Alfian memainkan pikiran pembaca untuk mengikuti petualangan Tegar Patih dan Khariza. Begitu masuk dalam dunia magis, Tegar dan Khariza harus menjalani ritual yang berbau mistis atas perintah Datuk Tinggi sang penguasa desa sampai suatu saat dibebaskan oleh pasukan TNI. Tegar ke Jakarta dan Khariza kembali ke Brunei.

Berbagai kekuatan magis dan kejadian yang tidak masuk akal menarik pikiran Tegar kembali ke desa itu dan mempertemukan Tegar kembali dengan Sari, seorang gadis yang penuh daya tarik luar biasa, yang kemudian menikah dengan Tegar.

Alfian menutup roman ini dengan kehadiran seorang bayi mungkil secara tiba-tiba di rumahnya, saat Sari ‘menghilang’ di desa Lumpur. Pikiran pembaca dipenuhi teka-teki karena Tegar harus mengembalikan anaknya ke budaya magis asal Sari. Karena dari hasil riset, anak Tegar berbeda dengan manusia lainnya yang kemudian mempertemukan kembali Tegar dan khariza.

Deskripsi :
Sebuah kompleksitas roman yang nikmat dibaca dan diselami telah tercipta. Potongan-potongan imajinasi terangkai dalam untaian kata dan teka-teki, membuat jantung kita berdegup setiap kali membalik halaman. Narasi Alfian Malik mengalir lancar seperti kakek yang fasih mendongeng. Inilah kelana dengan sejuta pesona, membius tanpa irama, kenikmatan yang tidak terduga membuat kita tetap haus di ujung cerita.

Bagi mereka yang menyukai cerita-cerita mistis, buku ini bisa jadi pilihan. Tidak sulit memahami pengungkapan imajinasi sang penulis.

Sumber : SSNET

Rahasia Meede

Februari 10, 2008

Mengungkap Sejarah Lewat Misteri Harta Karun VOC

Judul Buku : Rahasia Meede
Penulis : ES Ito
Penerbit : Hikmah, September 2007
Tebal : 671 Halaman

Sesuatu yang menjadi fakta sejarah sebuah bangsa, akan tetap tampak seperti huruf, angka dan peristiwa yang mati. Tanpa makna, tak bergerak, membutakan mata. Menghidupkan kembali fakta itu lewat imajinasi yang disusun rapi dan sistematis, diiringi gairah dan pesona serta kejutan adalah bagian dari upaya memperlambat kematian sebuah bangsa.

ES Ito si peneruka hulu sejarah dan laju zaman, telah mencatatkan diri sebagai novelis tambo modern Republika Indonesia, justru ketika elite bangsa ini sibuk dengan kepikunan kolektif, berputar-putar pada kekinian dan kedisinian. (Indra, Analisis Politik CSIS)

Sinopsis :
Misteri harta karun VOC sub judul dalam novel ini dibangun bukan cuma berdasarkan isapan jempol atau sekedar fiksi ngarang sendiri, tapi seabreg arsip data sejarah dipaparkan untuk mengorek, benarkah VOC masih menyimpan sejumlah besar hartanya di bumi Nusantara ?

Melalui beberapa karakter dalam novel ini, penulis membawa pembaca pada dunia misteri. Karakter tersebut melalui Batu Noah Gultom perantau asal Batak yang kemudian bekerja sebagai wartawan di koran Indonesiaraya. Batu ditugaskan oleh Parada untuk melacak kasus pembunuhan berantai tokoh penting. Secara tak terduga ia malah menemukan jejak Attar Malaka.

Ada pula tiga peneliti muda dari Belanda yakni Robert, Erick dan Rafael, mengungkap misteri De Ondergrondse Stad (kota bawah tanah) yang terhampar di bawah hiruk pikuk Jakarta. Mereka menemukan terowongan bawah tanah di bawah Museum Sejarah Jakarta.

Diduga ujung utaranya berada di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa, dan ujung selatannya bisa jadi berada di sekitar Istana Negara atau bahkan Monumen Nasional. Tapi ternyata bukan cuma mereka yang mencari keberadaan bangunan bawah tanah ini.

Entah bagaimana awalnya, E.S. Ito yang tentunya melalui penelusuran data sejarah yang sangat intensif berhasil menemukan petunjuk-petunjuk yang bisa membangun sebuah skenario sejarah tentang asal muasal dan keberadaan harta peninggalan VOC tersebut.

Pejabat VOC Cornelis Speelman, bersama dua orang pribumi yang memiliki pengikut setia Kapitan Jonker, dan Arung Palakka pada tahun 1666 membentuk komplotan bernama “Monsterverbond” yang secara de facto menjadi pengendali VOC. Pada masa kekuasaan mereka dilakukan penggalian emas besar-besaran di Salido Sumatera Barat tapi selalu dilaporkan tidak berhasil menemukan banyak emas dan tidak ada emas yang dikirim ke Belanda.

Setelah Speelman meninggal, para pesaing politiknya berusaha menyingkirkan Kapitan Jonker dan Arung Palakka. Jonker difitnah dan dipancung. Arung Palakka dibiarkan sibuk sebagai raja di Bone, daerah kecil di Sulawesi Selatan. Rahasia harta yang ditimbun Monsterverbond tidak terungkap. Itulah mengapa harta karun itu lebih dikenal sebagai “Het Geheim van Meede”, alias Rahasia Meede.

Deskripsi :
Hampir 3 tahun setelah novel pertamanya Negara Kelima terbit, akhirnya E.S Ito kembali merilis novel terbarunya. Masih mengandalkan kekuatannya dalam menggali data sejarah hingga ke pernik-pernik terkecil, E.S Ito mengusung novel keduanya dalam tajuk Rahasia Meede.

Tidak berbeda jauh dari novel pertamanya, Rahasia Meede kembali mengambil latar belakang dari sejarah Nusantara yang di dalamnya terdapat sebuah celah misteri dan teka-teki, yang kemudian dirangkai dan diuntai dengan potongan data sejarah yang lain hingga terbentuklah sebuah bangunan misteri besar dari sejarah masa lalu Nusantara.

Buku ini sangat tepat seandainya menjadi panduan sejarah bagi siswa sekolah. Pasalnya, di saat membaca tidak merasakan adanya kebosanan. Ini berbeda dengan buku sejarah standar. Dan buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang penasaran dengan harta karun VOC.

Sumber : SSNet

Diskusi Laskar Pelangi

Februari 5, 2008

andrea-sby013 “Laskar Pelangi, diawal cerita berhasil mengajak saya pergi ke Belitong, Andrea Hirata rapi sekali membangun suasana sekolahnya yang hampir roboh itu. Tapi dibagian berikutnya, Andrea membuat saya tidak sabaran karena dia terlalu berlama-lama dengan PN TIMAH dan GEDONGnya ditambah lagi otak saya tidak punya tempat untuk mengingat bahkan untuk sekedar mengeja nama-nama ilmiah bunga dan istilah-istilah sains lainnya, bodohnya saya,” kata Laga Rahman penyiar Suara Surabaya saat bercerita novel Laskar Pelangi.

Novel best seller Laskar Pelangi yang diangkat dari memoar masa kecil ANDREA HIRATA si penulisnya ini, menjadi topik diskusi di Perpustakaan SS Media yang menghadirkan Sirikit Syah seorang penulis yang juga ‘pelahap’ buku, pada Selasa sore, 5 Februari 2008.

“Tapi ada beberapa bagian yang membuat saya, tersenyum kecil karena Andrea berhasil membuat saya membayangkan bagaimana KUCAI, A KIONG dan SAMSON yang punya terobsesi menjadi Ade Rai itu,’” lanjut cerita Laga sambil di sambut tawa peserta diskusi yang sore itu memenuhi ruangan Perpustakaan SS Media.

sirikit-syahKata Sirikit Syah, banyak manfaat yang diperoleh setelah membaca Laskar Pelangi dan Sirikit memberi motivasi para peserta diskusi untuk menjadi penulis yang bisa menghasilkan tulisan seperti karya ANDREA HIRATA. “Kisah kita di masa kecil hingga dewasa bisa jadi buku, seperti novel Laskar Pelangi ini. Tinggal kita bagaimana mengemasnya, menambahi dengan imajinasi kita, memainkan bahasa dengan gaya hiperbola, dan merangkainya sehingga enak dibaca orang lain,” ungkapnya.

Dunia pengarang itu sangat bebas. “Jika tidak ingin kisah pribadi kita diketahui, bisa kita sembunyikan yang ingin kita sembunyikan, atau kita bumbui dan kita tambahi. Kita bisa menokohkan seseorang, tapi namanya kita samarkan. Itu sah-sah saja. Makanya jadi pengarang itu enak, bebas berimajinasi kapanpun ia mau,”papar perempuan kelahiran Surabaya tahun 1960.

Meski mendapat pujian dari seluruh peserta diskusi, namun ada yang menganjal ketika mengikuti alur buku tersebut. Keajaiban-keajaiban yang ditunjukkan oleh Ikal dan teman-temannya di SD Muhammadiyah dengan kreativitas mereka yang mengherankan. Misalnya telah mengenal suku-suku Afrika dengan budaya mereka. Mereka seperti mengetahui ilmu pengetahuan di dunia ini padahal mereka sekolah di SD dan SMP yang keadaan yang sangat terbatas. Bagi salah satu peserta diskusi, Ikal tokoh utama di Laskar Pelangi terlalu pintar untuk memaparkan kisah masa kecilnya.
Keganjalan alur cerita itu dijelaskan Sirikit Syah bahwa Laskar P
elangi ditulis Andrea Hirata ketika Andrea sudah dewasa dan ketika Andrea sudah belajar di luar negeri. Laskar Pelangi merupakan novel memoar yang bercerita tentang masa kecil Andrea Hirata. Tapi novel ini bukan cerita anak-anak. Makanya gaya penulisannya ditulis dalam bentuk sastra. Ditambahkan Sirikit, Laskar Pelangi merupakan tulisan dari sudut pandang penokohan yang sangat unik dan belum ada yang menampilkan dengan cara seperti Andrea Hirata. Gaya sastranya sangat tinggi dan liar dan Andrea termasuk yang telat menemukan jati diri sebagai sastrawan, ungkap Sirikit Syah yang juga lulusan Sastra Inggris IKIP Surabaya.

diskusi-lp-di-perpusSatu jam membahas apa yang tersirat dibalik novel Laskar Pelangi ini terasa hanya sekejap apalagi diselingi tanya jawab dan gelak tawa mengingat alur cerita Laskar Pelangi yang lucu. Menurut SIRIKIT, yang paling berkesan dari ANDREA HIRATA, dia sukses besar lewat tulisannya karena pengaruh seorang guru SD yang dia cintai. “Dia melakukan untuk untuk gurunya. Dan menjadi guru yang dicintai sebesar itu sungguh luar biasa. Kapan ya saya punya murid yang jadi penulis seperti ANDREA HIRATA?” kata SIRIKIT berharap.

Sebelum mengakhiri diskusi, SIRIKIT berpesan, jika jadi penulis, mulailah dengan membiasakan menulis diary. Baca buku apa saja dan tulislah ringkasannya. Karena dengan banyak membaca kita paling tidak akan menambah kosa kata, dan tulisan yang dihasilkan tidak terasa kering. “Targetkan misalnya satu minggu minimal baca satu buku. Setelah itu menulislah. Percuma kalau membaca saja tapi tidak menulis. Ya menulislah mulai sekarang, di saat ada waktu untuk menulis,” pungkas SIRIKIT yang juga pendiri Lembaga Konsumen Media (LKM).

Perempuan Kembang Jepun

Februari 4, 2008

MATSUMI Jadi Geisha

Judul Buku : Perempuan Kembang Jepun
Penulis : Lan Fang
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 284 Halaman

Walau menurut banyak orang, 98% kepala laki-laki berisi uang dan seks dan 2% sisanya -cinta dan kebersamaan- ada di kepala perempuan, novel ini bukan sekadar bercerita tentang uang dan seks. Uang memang dibutuhkan dan seks memang dinikmati, tapi dalam cinta dan kebersamaan itulah Sang Hidup meletakkan sebuah arti. (Penulis)

Sinopsis
MATSUMI mungkin tidak akan menyangka kehidupannya sebagai ‘putri’ geisha terhempas begitu saja sejak dia meninggalkan Jepang. Terlahir sebagai anak nelayan miskin, MATSUMI harus dijual ketika usianya 13 tahun demi kelangsungan hidup keluarganya.

MATSUMI akhirnya menjadi geisha yang sukses, cantik dan pintar. Sebagai geisha nomor satu di Kyoto, MATSUMI menjadi idaman setiap orang penting. Ketika Shosho (setingkat mayor Jendral/red) KOBAYASHI membawa MATSUMI ke Indonesia, hidup MATSUMI mulai berubah.

Pertama ia harus merubah namanya menjadi TJOA KIM HWA dan tidak boleh mengaku bahwa ia adalah orang Jepang. Sebab pekerjaan sebagai geisha hanya ada di Jepang, tidak boleh ada orang yang tahu bahwa orang Jepang juga melacurkan diri hingga ke Indonesia.

MATSUMI benci menjadi orang Cina yang menurutnya jorok. Lalu Shosho KOBAYASHI membawa MATSUMI ke Surabaya, ke Kembang Jepun. Namun Kembang Jepun bukan seperti di Kyoto dulu. Gadis-gadis geisha di sana bukan orang Jepang, kebanyakan orang Jawa yang memang melacurkan atau terpaksa menjadi pelacur.

Tidak ada gadis cantik dan pintar seperti di Kyoto dulu. Ketika Jepang masuk ke Indonesia di tahun 1942, MATSUMI pun menjadi geisha kelas satu. Tarifnya mahal dan tidak semua orang bisa menjadi pelanggannya.

Semua berubah ketika MATSUMI bertemu SUJONO kuli angkut toko kain milik Babah OEN. Demi SUJONO, MATSUMI meninggalkan kehidupan gemerlapnya sebagai geisha untuk menikah dan melahirkan anak SUJONO, KAGUYA.

Kehidupan ternyata tak berjalan sebagaimana yang diinginkan MATSUMI. SUJONO telah memiliki anak dan istri, SUJONO tidak bekerja sehingga semua kebutuhan SUJONO dan keluarganya juga harus ditanggung MATSUMI.

Ketika Jepang kalah kehidupan makin sulit untuk MATSUMI sampai ia tega meninggalkan KAGUYA dan SUJONO. MATSUMI kembali ke Jepang. Sementara SUJONO harus menghidupi KAGUYA di tengah rong-rongan istri tuanya yang selalu berlaku jahat pada KAGUYA.

Deskripsi
Dalam novel ini kita belajar bahwa kita tidak boleh menilai sesorang berdasarkan apa yang kita lihat di permukaan. Ada banyak alasan yang mendasari seseorang berbuat jahat. Seperti yang dilakukan MATSUMI ketika meninggalkan anaknya. Bukan dia yang menghendaki perpisahan itu terjadi namun keadaan kadang membuat seseorang tidak dapat memilih.

Dengan seting jaman penjajahan Jepang dan situasi Surabaya kala itu kita akan dibuat menyusuri jalan Kembang Jepun, Klenteng Boen Bio dan Jalan Slompretan yang hingga kini masih ada. Lan Fang sang penulis juga mampu membuat pembaca larut dalam emosi dengan penuturan yang sederhana dan mudah dipahami.

Sumber : SSNet

Buku Favorit

Januari 18, 2008

Dwilogi ‘Ketika Cinta Bestasbih’ Novel karya Habiburrahman El Shirazy yang dirilis bulan maret 2007 menjadi buku paling Favorit di Perpustakaan SS Media. Sementara itu Ketika Cinta Bertasbih 2 yang diluncurkan bulan November 2007 menjadi bacaan yang sering dipinjam dan dibaca.

Sedangkan The Secret Rahasia yang jadi buku Best Seller dipasaran sejak Oktober, juga menjadi bacaan favorit. Meski menempati urutan ke-10.

Trilogi Laskar Pelangi (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor) juga menjadi bacaan favorit pembaca perpustakaan SS Media. Apalagi setelah Andrea Hirata tampil di Kick andy Metro TV, novel yang banyak menginspirasi pembacanya, menjadikan novel ini menjadi diskusi di reading corner SS Media.

Seperti yang sudah diduga, Harry Potter and The Half Blood Prince yang dirilis bulan Desember 2006 masih menjadi buku Favorit di Perpustakaan SS Media meskipun buku Harry Potter ini sempat dilarang berada dalam daftar literasi SS Media.

Berdasarkan survey atau informasi yang dikumpulkan melalui perbincangan diperpustakaan mengatakan alasan meminjam buku atau koleksi perpustakaan yang lain karena, Membaca merupakan bagian Refreshing dari rutinitas pekerjaan. Untuk itu buku yang sering dipinjam dan dibaca koleksi yang ringan dan menghibur.

Inilah, 10 Buku Terfavorit Menurut Perpustakaan SS MEDIA
Kat
egori favorit karena sering dipinjam dan dibaca selama tahun 2007 adalah,
1. Ketik
a Cinta Bertasbih – Novel
2. Taj Mahal – Novel

3. Trilogi Laskar Pelangi (LP, Sang Pemimpi dan Edensor) – Novel
4. Ayat-Ayat Cinta – Novel
5. Harry P
otter and The Half Blood Prince – Novel
6. La Tahzan – Agama
7. Burned A Live – Novel
8. Khadijah – Agama

9. Re-Code Your Change DNA – Marketing Bisnis
10. The Secret –
Motivasi

Sedangkan, karyawan Suara Surabaya Media yang aktif membaca dan meminjam koleksi perpustakaan baik buku maupun majalah diberi reward dengan mendapat paket buku yang terdiri 5 buah buku dengan 4 judul yang sama dan 1 judul berbeda, Souvenir dari bonus pembelian majalah Femina dan Rolling Stone. Juga VCD copyright National Geographic dan Discovery Channel.

Untuk : Manda, Elvi, Rully Anwar, Laga Rahman, Haryati
Terima kasih atas telah memanfaatkan koleksi Literasi
Library SS Media.

Selamat Tahun Baru 2008
Tetap Semangat.. Ayo Baca. Ayo Baca…

Sokola Rimba

Januari 11, 2008

Sokola Rimba, Belajar Bersama Orang Rimba

Judul Buku : Sokola Rimba, Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba
Penulis : Saur Marlina Manurung
Halaman : xvi + 229 halaman
Penerbit : Insistpress, Yogyakarta 2007

Tidak semua masyarakat suku itu selalu arif pada alamnya. Dan sebaliknya, tidak semua orang rimba itu tidak bijak pada lingkungan. Ada baiknya orang tahu, pemerintah juga pernah mencoba membantu dengan caranya sendiri, walau sering tidak ada hasilnya.

Bahwa LSM tidak selalu betul-betul memahami kebutuhan warga dampingannya dan benar adanya. Dan tidak selamanya orang seperti aku yang bergaul dekat dengan masyarakat suku, layak didengar karena kami juga bisa salah.

Yang pasti aku hanya ingin menulis perjalanan manusia biasa dan bukan kisah-kisah heroik. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Orang Rimba akan baik-baik saja jika tidak ada kita, orang luar, yang kelaparan dan selalu merasa berhak menghakimi, menunjukkan langkah, dan menentukan kehidupan untuk mereka. (Penulis)

Sinopsis :
Membaca kisah buku ini seperti sebuah cerita yang mengalir apa adanya. Padahal apa yang tertulis adalah perjalanan menarik dari alumni Antropolog Universitas Padjajaran Bandung saat berpetualangan di Bukit Dua Belas Jambi tahun 1999.

Mungkin kalau membaca sekilas, ini sebuah buku cerita. Padahal bukan, ini catatan harian Butet yang awalnya berjuan seorang diri untuk membangun pemikiran masyarakat suku yang terasing. Bagaimana dia mengajarkan kerangka berpikirnya untuk mereka atau sebaliknya, bisa disimak dalam Bab 6 Bagian Pertama tentang “Muridku Guruku”.

Seperti dituturkan Butet (halaman 95), “Aku cukup kuatir dengan orangtua yang terus mengawasiku dengan penuh selidik. Seorang nenek mengatakan dalam bahasa rimba sekolah tidak ada dalam adat kami. Kalau kami dapat malapetaka, itu artinya kamu yang membuat kami kualat. Aku berusaha mentralisir dengan hanya menyobek kertas untuk mereka coret-coret, mengeluarkan sebuah buku abjad dan angka dalam huruf yang besar-besar dan hanya bermain-main selama beberapa minggu pertama. Aku mengajak mereka bernyanyi yang berisi nama-nama hari dan abjad, mengajari mereka menjahit, pencak silat bahkan naik sepeda. Sebaliknya, aku banyak belajar tentang siapa mereka, hidup dan adat mereka, belajar membuat tikar dari seluang, mengolah buah guntor dan banyak lagi. Aku bukan hanya guru bagi mereka, namun muridku adalah guruku juga”.

Deskripsi :
Buku ini cukup bagus untuk membuka wawasan kita. Bahwa tidak semua orang Indonesia membutuhkan bantuan pemerintah, seperti pikiran penulis. Indonesia yang memiliki kekayaan alam, ribuan pulau, termasuk masyarakat suku yang tersebar di banyak daerah Indonesia. termasuk masyarakat suku yang tersebar di banyak daerah Indonesia, diantaranya, suku yang berdiam di Bukit Dua Belas Jambi.

Penulis mencoba menampilkan keunikan masyarakat suku tersebut dan perjuangannya dalam memberikan sedikit bekal bagi masyarakat suku untuk bisa berhubungan dengan dunia luar. Buku ini bisa dibaca siapa saja, termasuk anak-anak yang ingin tahu bagaimana kehidupan anak-anak yang tinggal di bukit dan jauh dari keramaian.

Sumber : SSNet