Judul Buku : Dari Kilometer 0,0
Penulis : Andi A. Mallarangeng
Penerbit : RDI JUrnal Nasional Publishing Group
Halaman : 302, Oktober 2007
Kapan saja, di mana saja. Begitulah kredo Andi Alfian Mallarangeng dalam urusan menulis. Maksudnya, kapan ada waktu, tanpa terikat tempat, juru bicara presiden itu mengeluarkan notebook-nya dan menulis untuk kolom tetapnya di harian Jurnal Nasional terbitan Jakarta. Topik yang dibahasnya bermacam-macam. Materinya dicomot dari pengalaman sehari-hari bersama Presiden SBY. Tentu, banyak hal yang dialaminya. Maka, untuk kolom mingguannya itu ia memilih tema yang dinilai menarik, hangat, dan relevan pula kebijakan pemerintah. Minggu demi minggu, kolomnya terus mengalir. Hasilnya kolomnya sudah bertumpuk. Lalu Andi menerbitkannya tulisan sebagai buku.
Dalam buku ini, kolom kolom itu sengaja disusun secara kronologis agar pembaca bisa mengikuti perjalanan kepresidenan Presiden SBY secara runtut dari minggu ke minggu. Dengan begitu, pembaca dapat melihat berbagai peristiwa, kebijakan, pernyataan, tindakan atau situasi penting atau menarik dari kacamata juru bicara kepresidenan.
Diberi judul “Dari Kilometer 0,0” karena ketika Andi dimasa kecil selalu bepergian dan melihat tanda-tanda kilometer untuk mengetahui apakah ia sudah dekat dengan tempat tujuan atau tidak. Biasanya kata ANDI kilometer 0 itu dihitung dari pusat kota-kota seperti alun-alun atau kantor pemerintahan. “Secara simbolik kilometer 0 di negara Indonesia berada di sekitar istana kepresidenan yaitu Istana Negara dan Monas. Tambahan desimal pada kilometer 0,0 sekedar membedakan dengan cara mengukur yang lain yaitu kilometer 0 yang ada di Sabang untuk menunjukkan titik awal geografis Nusantara “Dari Sabang sampai Merauke”.
Kata Hotman Siahaan Pakar Sosiologi Universitas Airlangga yang menjadi pembicara bedah buku Dari Kilometer 0,0 di Hotel Sheraton Surabaya, Jumat 15 Februari 2008 menilai Andi mempunyai kepiawaian dan keliaran berpikir yang sangat jeli dalam tulisan-tulisannya. Bahkan ia mengatakan keliaran berpikir ANDI MALARANGGENG sudah gawan bayi (bawaan sejak lahir). “Membaca buku ini saya tidak surprise, karena saya tahu ANDI itu seperti apa, tetapi saya lebih surprise ditengah-tengah kesibukannya, ANDI bisa membuat sebuah buku,” kata HOTMAN seperti dikutip suarasurabaya.net.
Parijs Van Java
Mobil Kepresidenan boleh anti peluru, tetapi bau itu tetap masuk melalui saluran AC, membuat Presiden bertanya-tanya. Ada di mana kita? Inikah Bandung? Paris Van Java? ‘Sampah Pak,’ ajudan Presiden mencoba menjelaskan. ‘Ada sampah di mana-mana dan tak kemana-mana’ kata presiden-presiden mahasiswa se-Bandung Raya ketika bertemu Presiden SBY seusai acara berlari. Mereka meminta Presiden SBY turun tangan.
Ada SBY di Friendster
Bagaimana perasaan anda jika ada orang lain mengaku sebagai Anda, menggunakan identitas Anda, bahkan menggunakan identitas Anda? Selamat datang di dunia maya internet. Karena di dunia maya pun kebenaran dan kejujuran juga harus ditegakkan. Karena itu, sekali-sekali masuklah ke dunia maya dan cek kalau-kalau identitas Anda digunakan orang lain tanpa sepengetahuan anda.
Cinta yang Terhalang di Kuba
Gara-gara politik, dua hati jadi terpisah. Masih ingat cerita tragedi cinta pada generasi tahun 50-an dan 60-an? Widodo terdampar di negeri orang seperti orang yang tak punya negara, stateless. Widodo berusaha terus untuk kembali ke tanah air karena sang kekasih Widari menunggu untuk dilamar. Tapi usaha kembali ke tanah air tak membuahkan hasil karena paspor orde lama tidak berlaku sedangkan paspor orde baru tidak bisa keluar.
Indonesia Raya Berkumandang di Guilin
Tiba-tiba salah seorang diantara mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang kemudian serempak diikuti oleh yang lain. Sekitar 20 sampai 30 orang menyanyikan lagu Indonesia Raya dari atas tebing di antara petugas keamanan. Presiden SBY dan rombongan tertegun, lalu menghentikan langkah sambil ikut menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Dan orang-orang yang menyanyikan lagu Indonesia Raya itu adalah turis Indonesia yang sedang berkunjung ke Reed Flute Cave di Guilin. Ini merupakan pertanda positif tentang semakin tumbuh subur Nasionalisme Indonesia.




